Saturday, 27 April 2013

Berapakah hutang negara Indonesia?



berbicara soal hutang, indonesia sudah memiliki hutang sejak dahulu kala,dimulai ketika era soekarno atau tepatnya setelah kita merdeka,Indonesia mewarisi hutang Belanda yaitu senilai US$4 miliyar ditambah US$2,3 miliyar hutang baru,sebenarnya soekarno anti terhadap hutang,akan tetapi hutang yg didapat pun juga warisan dari Belanda.
selanjutnya perjalanan hutang Indonesia terus berlanjut,ketika Orde Lama runtuh dan diganti dengan Orde Baru yaitu zamannya Soeharto,banyak suara manyatakan bahwa yg menyebabkan negara Indonesia terjerat hutang sangat besar adalah karena Soeharto,waktu itu kebijakan soeharto adalah menganggap pinjaman luar negri(utang) merupakan pendapatan bagi negara?,kalau dilihat dari struktur anggaran pemerintah hutang dimasukkan ke penerimaan selain pajak,ketika zaman soeharto membicarakan hutang negara adalah hal yg tabu,dan pengelolaannya pun tidak transparan sehingga hutang kita terus menumpuk,kata orang tua kita dulu:"yang penting bapak senang,janganlah membahas-bahas hutang negara".



memang ketika zaman soeharto semua harga murah dan terjangkau,dikarenakan subsidi dari pemerintah sangat besar,akan tetapi ketika pemerintah sudah tidak bisa berhutang lagi dikarenakan penerimaan pajak kecil dan adanya penarikan modal asing secara serentak diwilayah Asia tenggara meliputi Indonesia,Thailand,Malaysia,dan Korsel,negara-negara ini pun ekonominya hancur,kurs terhadap dolar menjadi tidak stabil,yg tadinya dolar mencapai RP.2.500/USd puncaknya mencapai RP.20.000 kalau dibulatkan,dan akhirnya terkuaklah berita bahwa pada saat itu(zaman Orba) hutang Indonesia mancapai angka RP.1500 Triliun dalam kurun 32 tahun masa pemerintahan Soeharto.
hasilnya adalah ekonomi indonesia mengalami hyperinflasi dan panasnya situasi politik pada tahun 1998 yang puncaknya adalah tragedi penembakan mahasiswa trisakti dan Tragedi pembantaian di semanggi,soeharto pun dipaksa turun.

pada masa pemerintahan Habibie kondisi perekonomian dan politik indonesia sdang sangat tidak stabil,yaitu bom inflasi yg diwariskan soeharto,bahkan ketika itu proyek IPTN pun sudah dihentikan karena tidak mendapat dana,padahal proyek sudah berjalan optimis,tapi apa daya,ketika itu pemerintah sangat membutuhkan talangan dana dan IMF banyak memberikan berbagai syarat demi meminjamkan uangnya,ketika itu rating kredit Indonesia oleh s&p sebuah lembaga pengawas kredit menurunkan rating Indonesia dari BBB ke CCC,sehingga Investor pun tidak mau menanam modalnya karena tidak ada jaminan dari pemerintah disebabkan krisis,apalagi ketika itu pemerintah disibukkan dengan pesta Demokrasi.

pada masa Gus dur rating kredit Indonesia mengalami fluktuasi dari CCC ke DDD lalu naik lagi menjadi CCC,hutang Indonesia waktu itu mencapai RP.1234,28 Triliun yang menggerogoti 89% dari PDB,sebuah angka yg sangat berbahaya,apalagi bunga-bunga hutang yg mulai jatuh tempo,rata-rata hutang Indonesia memiliki jatuh tempo dalam waktu 20-30 tahun,itupun cicilan pokok,belum bunganya.

lanjut ke masa pemerintahan Megawati,banyak terjadi kasus-kasus kontroversial yaitu dilegonya aset-aset penting milik negara,karena menurut pemerintah ketika itu,menjual aset negara harus dilakukn untuk menutup hutang,Pada 2001 utang Indonesia sebesar Rp1.273,18 triliun turun menjadi Rp1.225,15 triliun pada 2002, atau turun sekitar Rp48,3 triliun. Namun, pada tahun-tahun berikutnya utang Indonesia terus meningkat sehingga pada 2004, total utang Indonesia menjadi Rp1.299,5 triliun. Rata-rata peningkatan utang pada tiga tahun pemerintahan Megawati adalah sekitar Rp25 triliun tiap tahunnya.Namun, terdapat hal positif lain yang terjadi pada masa pemerintahan Megawati, yaitu naiknya tingkat penyerapan pinjaman luar negeri Indonesia. Sejak 2002 hingga 2004, penyerapan utang mencapai 88% dari total utang luar negeri yang ada. Hal ini memperlihatkan bahwa pemerintah makin serius menggunakan fasilitas utang yang ada untuk kegiatan pembangunan. Keseriusan pemerintah dapat dilihat dari porsi utang terhadap PDB yang makin turun, yakni dari 77% pada 2001 menjadi 47% pada 2004. Menurunnya rasio utang terhadap PDB turut menyumbang meningkatnya rating kredit yang dilakukan oleh S&P dari CCC+ pada 2002 menjadi B pada 2004.

nah yang sekarang adalah masa pemerintahannya Pak SBY,berita terbarunya adalah sekarang hutang Indonesia sudah mencapai RP.1.796 Triliun,mengalami kenaikan kurang-lebih 500 Triliun,tapi kalau hutang yg sekarang sudah bisa di imbangi oleh PDB kita,PDB indonesia tahun ini mencapai Rp 7.226 triliun,akan tetapi resiko itu tetap ada karena kita melihat likuiditas,sedangkan APBN yg sudah dirancang oleh DPR pada tahun 2013 ini mencapai Rp 1.683 triliun sedangkan hutang kita mencapai Rp 1.975,62 triliun..
kalau dihitung-hitung rasio hutang indonesia dengan PDB 2012 adalah 27,3 % atau masih dalam batas aman,akan tetapi kalau hutang indonesia tetap dibiarkan menumpuk seperti itu maka kita bisa kenan BOM waktu lagi seperti zamannya soeharto,sedangkan sekarang negara-negara maju sedang dilanda krisis moneter yg menerjang uni Eropa dan Amerika,yg berbahaya adalah kita masih menggantung kan sebagian besar pasar/ekspor kita ke sana,Devisa dan hutang indonesia pun sebagian besar dalam bentuk Dolar,jadi apabila perekonomian amerika hancur maka kita akan terkena dampaknya juga,mungkin dampaknya dapat menghancurkan ekonomi kita sekarang dan menguras Devisa negara.

makanya janganlah pemerintah kita terus berhutang,apalagi jika menggunakan sistem riba,yaitu bunga riba,sekali kita terjerat maka akan sulit untuk melepaskannya,dan juga seharusnya pemerintah menghemat anggaran APBN dan tidak memboroskan uang negara hanya untuk kepentingan PNS.akan tetapi pemerintah juga harus merealisasikannya dengan pembangunan diberbagai sektor,dan yg paling penting adalah pemerintah harus bersih dari budaya korupsi jika ingin indonesia terbebas dari hutang.

kami sebagai rakyat kami yg melihat dan kami yg menilai
 sumber:http://www.rmol.co/read/2011/07/28/34555/Utang-Indonesia-di-Zaman-SBY-Jauh-Lebih-Besar-
http://maulanusantara.wordpress.com/2010/05/09/utang-rp1-700-triliun-siapa-tanggung-jawab-utang-era-soekarno-hingga-sekarang/#comment-6278

No comments: