Monday, 19 August 2013

Bapak penerbangan indonesia pencetus kokpit moderen

waktu itu admin lagi iseng baca-baca majalah penerbangan yang terbitan tahun 2006,nah didalam majalah itu ada sebuah kisah menarik yang sangat menginspirasi admin,yaitu kisah bapak penerbangan indonesia yang mencetuskan ide "two twin cockpit" kepada dunia.


Indonesia bukanlah merupakan negara yang berada terdepan dalam kemajuan teknologi atau negara dengan deretan mahakarya dan penemuan-penemuan teknologi seperti dengan Jerman, Jepang, Inggris atau Amerika Serikat. Namun dalam bidang penerbangan, Indonesia adalah negara yang memiliki sejarah aviasi yang patut dibanggakan bahkan di antara negara-negara maju lainnya di dunia. Salah satunya adalah sejarah berdirinya maskapai tertua di dunia, KLM, yang tidak bisa lepas dari keterlibatan Indonesia, khususnya kota Bandung. Untuk era modern, seorang putra bangsa juga telah menyumbangkan buah pikir yang hingga kini diakui dan diadopsi di seluruh dunia. Ia adalah Wiweko Soepono.
Pada tahun 60 hingga 70-an, dibutuhkan setidaknya tiga penerbang di dalam kokpit terutama untuk pesawat komersial berbadan lebar seperti Douglas DC-8, Boeing 707, 727 dan pesawat penumpang berbadan lebar buatan Rusia lainnya. Ketiga kru di dalam kokpit itu adalah pilot, kopilot dan ahli mesin (flight engineer) yang merupakan konfigurasi standar digunakan dalam rancang bangun dan pengoperasian pesawat di dunia. Bahkan terkadang dibutuhkan kru tambahan untuk pengoperasian sistem komunikasi radio dan navigasi yang menuntut sebuah penerbangan dioperasikan oleh empat atau lima orang kru. Pakem tersebut kemudian berubah setelah seorang pilot dengan segudang pengalaman yang saat itu telah menjabat sebagai diektur Garuda Indonesia, Wiweko Soepono, melalui buah pikirnya yang revolusioner mempelopori konfigurasi kokpit dengan dua awak saja seperti yang ada di seluruh pesawat komersial modern.
Kala itu Wiweko Soepono menjabat sebagai direktur Garuda Indonesia periode 1968-1984. Untuk ekspansi armadanya, Garuda Indonesia membeli enam unit Airbus A300B4 di mana unit pertama dari pemesanan tersebut diserahkan pada 18 Januari 1983. Pertimbangan Wiweko Soepono untuk mengusulkan konfigurasi dua awak dalam kokpit pesawat berbadan lebar itu berdasarkan dua pertimbangan. Pertama, dari penciutan jumlah awak dari lima kru menjadi tiga kru di pesawat berbadan lebar Douglas DC-8. Alasannya, operator radio dan navigator tidak diperlukan lagi dalam operasional penerbangan karena tugas mereka dapat ditangani oleh kedua pilot saja. Lalu yang kedua adalah pengalaman Wiweko Soepono dalam terbang solo (terbang sendirian) pada tahun 1966 melintasi Samudra Pasifik dari Wichita, Kansas – AS ke Jakarta menggunakan pesawat angkut ringan buatan Beechcraft Super H-18 yang memakan waktu 60 jam dengan mengisi bahan bakar di pulau Wake, Honolulu, Guam dan Manila. Penerbangan ini merupakan pencapaian yang luar biasa, yang menjadikan Wiweko Soepono penerbang Asia pertama yang melintasi Samudra Pasifik menggunakan pesawat angkut ringan.
Berdasarkan kedua pertimbangan tadi, Wiweko Soepono berkesimpulan pesawat Airbus A300B$ cukup diawaki oleh dua kru saja. Ia berkata kepada pihak Airbus melalui Executive Vice President dan General Manager Airbus Industrie, Roger Beteille; “keluarkan kursi flight engineer setelah itu mari kita berunding mengenai pembelian pesawat.” Seketika itu Berteille terkejut dengan idenya yang kontroversial itu. Berteille juga  melihat Wiweko Soepono merupakan seorang aviator dengan visi yang jauh ke depan yang berasal dari negara berkembang di Asia yang bukanlah termasuk dari jajaran elit dalam kancah persaingan teknologi pesawat. Konfigurasi tersebut juga menginspirasi lahirnya konsepGlass Cockpit di mana instrument-instrumen di dalam kokpit ditampilkan dengan perangkat elektronik canggih dengan teknologi mutakhir yang memudahkan interaksi pilot dengan berbagai sitem pesawat. Pada awalnya konfigurasi tersebut akan diberi nama sesuai penggagasnya yakni kapten Wiweko Soepono sendiri, namun dirinya menolak dan memilih Garuda untuk disematkan kepada nama konfigurasi tersebut, sehingga desain itu dinamakan Garuda’s Cockpit.
Terobosan tersebut mendapat banyak tentangan dan hambatan. Salah satunya adalah pelarangan untuk mendarat pada malam hari oleh beberapa bandara internasional karena alsan keamanan dan keselamatan. Bahkan Airbus sendiri pada awalnya meragukan tentang keberhasilan rancangan tersebut. Namun setelah beberapa waktu, Garuda’s Cockpit terbukti menjadi cikal bakal rancangan kokpit pesawat berbadan lebar dengan dua awak di dunia, baik yang di produksi Airbus maupun Boeing, yang akhirnya mengakui efisiensi dan efektifitas konfigurasi Wiweko tersebut. Wiweko Soepono sendiri juga turut terlibat dalam perancangan kokpit Airbus A300B4 yang dihasilkan dari idenya ini.
Wiweko Soepono (lahir di BlitarJawa Timur18 Januari 1923 – meninggal di Jakarta8 September 2000 pada umur 77 tahun) dikenal sebagai seorang direktur utama Garuda Indonesia pada periode 1968-1984. Wiweko adalah bapak dari pesawat two-man cockpit yang diterapkan pabrik Airbus Industrie. Pesawat pertama kokpit dua awak (crew) adalah Airbus A300-B4 FFCC (Forward Facing Crew Cockpit), cikal bakal pesawat glass cockpit berawak dua pesawat-pesawat sekarang.

No comments: